Thursday, July 12, 2007

Antara yang Paling Dekat dengan yang Paling Jauh


Tadi pagi sebelum berangkat ke kantor, sempet nonton infotainment + Copa America (Argentina vs Mexico). Betapa kagetnya mendengar informasi bahwa Taufik Savalas, salah seorang selebriti kocak Indonesia meninggal, juga beberapa hari sebelumnya mertua tetangga dekat saya juga meninggal... Innalillahi wa innailaihi rojiuun...

Tahukah teman....... bahwa kematian adalah sesuatu yang tidak dapat disangkal dan tidak dapat ditolak. Sebagai suatu takdir, kematian dapat menjumpai siapa saja dan kapan saja. Hanya Tuhan yang tahu. Karena, kematian adalah sebagian dari perjalanan hidup yang panjang yang sesungguhnya. Karena, kematian hanya merupakan lepasnya ruh dari jasad sebagai langkah menuju alam yang sesungguhnya.

Menjadi kekuaasaan-Nya lah kematian datang bagi segala sesuatu yang hidup, sebagaimana kita ditiupkan ruhnya dan dihidupkan pada saat berumur empat puluh hari di dalam kandungan.

Sehingga, kematian yang dapat datang kapan pun dan dimana pun menjadi sesuatu yang paling dekat bagi manusia.... begitu dekatnya.... sehingga kita tidak pernah tahu kapan datangnya dan dimana dijemputnya....

Sebagai manusia, kita hanya mampu berusaha karena yang menentukan adalah Allah SWT semata. Perbaikan diri untuk menyongsong masa depan yang jauh lebih panjang di alam kubur dan alam barzah. Perbaikan diri dilakukan dari sekarang, karena waktu terus berlalu..... mengalir dan berputar begitu cepatnya... sehingga kita tidak pernah bisa memutar waktu yang telah berlalu....

Waktu, sebagaimana diibaratkan sebagai pedang, yang merupakan sesuatu yang paling jauh. Begitu jauhnya sehingga kita tidak dapat mencapainya kembali waktu yang terlewati......

Merokok...


Dengan merokok, fikiran menjadi lebih tenang, fokus dan terarah... Tentunya itu bagi saya semenjak beberapa tahun lalu. Kebiasaan ini terus berlangsung sehingga menjadi sulit untuk dihilangkan. Pada saat memikirkan banyak masalah, berkumpul bersama teman, main game komputer, dan yang jarang lupa sehabis makan.

Kebiasaan ini berawal dari pergaulan di kost-an waktu kuliah dulu di pinggiran kota Bogor, tepatnya di Darmaga, mulai dari Badoneng (Babakan Doneng), Bara (Babakan Raya), trus pindah ke Balio (Babakan Lio). Kebiasaan bertambah meningkat pada saat sudah lulus kuliah dan bekerja di kawasan Gatot Subroto. Karena uang bukan suatu masalah sekalipun mbayarin temen2.

Rokok yang pertama dihisap adalah GGF , kemudian waktu bokek DjTjK, waktu banyak duit DjS, dan sekarang semenjak 6 tahun adalah StM tapi kadang-kadang kalau ga ada SpMl. Saking kebiasaannya pakai StM, membuat susah pake yang lain karena rasanya sangat lain dan menjadi pusing dengan baunya...

Kebiasaan merokok, sebagaimana iklan-iklan memang sangat merugikan kesehatan. Bukan hanya diri sendiri, tapi juga orang lain sebagai perokok pasif. Disadari atau tidak, seorang perokok adalah orang yang egois, karena tidak memperdulikan orang lain! Tapi siapa yang peduli? Aturan Perda mengenai Pencemaran Udara yang diberlakukan di DKI Djakarta saja hanya sekedar angin lalu...... kenapa??

Mungkin kita perlu berfikir bahwa untuk membunuh pohon bukan meranggas daunnya, tapi gali dan hancurkan akarnya?? Tapi siapa berani, akarnya kan... penghasil devisa yang sangat besar bagi negara... entah benar atau hanya sekadar pembenaran... yang jelas kita memang masih seorang manusia yang 'egois'....

Peduli atau pun tidak dengan aturan, yang jelas sudah beberapa kali saya mencoba untuk berhenti merokok. Mulai dari sering menghisap permen, banyak olah raga, banyak makan, dan merubah pola hidup. Tapi tetep aja berkali-kali juga 'syaithoon' berkata "ngapain kamu berhenti merokok yang menghidupi jutaan orang yang bekerja di pabrik rokok". Asseeemmmm... Emang kayaknya... gw bukan ihkwanulmuslimiin tapi ikhwanusysyaithoon....

Parah nya... sekarang mencoba mengurangi (bukan ngurangin rokok sebatang demi sebatang yang artinya sama dengan ngabisin) merokok... eeee.... badan meningkat belasan kilo dari 60-an jadi 70-an.... waduhhh....

Thursday, June 21, 2007

Apakah Kita Baru Masih Membanggakan Slogan dan Atribut Semata?

Pertanyaan yang sederhana yang sedari dulu sampai saat ini masih teringat dalam memori di kepala, masihkah kita baru bangga dengan slogan dan atribut? Slogan atau atribut semacam apa yang dimaksud, yaitu mungkin 'kita harus menjadi negara yang demokratis!', atau 'mari kita galakan swasembada pangan', atau 'tegakkan emansipasi wanita', atau yang lebih sederhana 'aku orang indonesia', 'kulo wong jowo' atau 'abdi urang sunda' atau lagi 'kaula gragemania', dll dll.....

Ke'bangga'an identik dengan rasa percaya diri, tapi pada saat berlebihan dan tidak berdasar lagi merupakan suatu penunjukkan diri yang nilainya 10 dari skala 100. Lantas yang kurang apa ya? masih ada nilai 80 lagi tuh?

Itu yang terkadang kita lupakan, mungkin. Dasar penunjukkan itulah penyebabnya, seperti dalam teori yang perlu dilakukan adalah dengan kata tanya apa, kenapa, bagaimana, untuk apa. Apa dasarnya slogan? Kenapa perlu dilakukan? Bagaimana caranya? Dan untuk apa tujuannya?

Yang pasti, perlu disadari bahwa kita masih baru menunjukkan posisi kita yang diharapkan, seperti KPK yang memposisikan penegakkan korupsi tapi belum mengarah pada mewujudkan eksistensinya sebagai lembaga yang berperan penuh terhadap tujuan perwujudan penegakkan korupsi tersebut secara utuh.... contohnya kenapa 'ga nyampe-nyampe membereskan korupsi kelas kakap sampai mau diganti lagi pimpinannya...
Seperti kita yang masih sempet-sempetnya membuka internet dan mengetik hal-hal seperti ini, padahal kita bangga bekerja di tempat yang diinginkan dan bangga menunjukkannya pada orang lain......

Tentu saja, kalau mau berfikir dan berbuat yang besar lebih baik dimulai dari yang kecil dulu..... tapi tidak untuk KPK.....

Rawai Tuna, Kendala dan Solusi Operasionalnya


Rawai tuna atau tuna longline merupakan alat penangkap ikan tuna yang paling efektif. Rawai tuna merupakan ragkaian sejumlah pancing yang dioperasikan sekaligus. Satu tuna longliner biasanya mengoperasikan 1.000-2.000 mata pancing untuk sekali turun.

Rawai tuna umumnya dioperasikan di laut lepas atau mencapai perairan samudera. Alat tangkap ini bersifat pasif, yaitu menanti umpan dimakan ioleh ikan sasaran. Setelah pancing diturunkan ke perairan, lalu mesin kapal dimatikan, sehingga kapal dan alat tangkap akan hanyit mengikuti arus atau disebut drifting. Drifting berlangsung selama kurang lebih 4-5 jam. Selanjutnya mata pancing diangkat kembali ke atas kapal.

Umpan longline harus bersifat atraktif, misalnya sisik ikan yang mengkilat, tahan di dalam air dan tulang punggung yang kuat. Umpan dalam pengoperasian alat tangkap ini berfungsi sebagai alat pemikat ikan. Jenis umpan yang digunakan umumnya ikan pelagis kecil, seperti lemuru (Sardinella sp.), layang (Decapterus sp.), kembung (Rastrelliger sp.) dan bandeng (Chanos chanos).

Rawai tuna ini merupakan alat tangkap yang ramah lingkungan karena bersifat selektif terhadap jenis ikan yang ditangkap. Jenis ikan tangkapan utama berupa ikan tuna dan ikan cakalang merupakan jenis komoditi yang exportable, sehingga pemanfaatan alat tangkap ini semakin meningkat. Dahuri (2001), menyampaikan bahwa potensi tuna dan cakalang di perairan ndonesia adalah 780.040 ton. Oleh karena itu, pentingnya pengoperasian alat tangkap rawai tuna dibahas dalam tulisan ini.

Unit Penangkapan Rawai Tuna
a. Kapal
Alat tangkap rawai tuna dioperasikan menggunakan kapal khusus rawai tuna yang memiliki buritan cukup luas untuk pengoperasian rawai menggunakan line hauler. Kapal yang digunakan berukuran yang bervariasi sekitar 30-600 GT. Ukuran kapal tersebut menentukan jumlah hari trip penangkapan yang dilakukan.
Bahan pembuatan kapal ada yang terbuat dari kayu, FRP dan baja. Bahan kapal juga tergantung kepada ukuran besar kapal. Ukuran kapal lebih dari 150GT umumnya terbuat dari baja.

b. Alat tangkap rawai
pada dasarnya rawai tuna terdiri atas 3 komponen utama, yaitu pelampung rangkaian tali temali dan pancing. Pada pancing dilengkapi dengan umpan berupak ikan utuh jenis pelagis kecil yang disukai ikan tuna. Jumlah pancing yang digunakan berkisar antara 800-2000 pancing dengan panjang rentang tali bisa mencapai ratusan kilimeter..

c. Alat bantu penangkapan
Alat bantu yang dipergunakan dalam pengoperasian rawai tuna adalah lampu apung atau radio apung yang berfungsi sebagai pendeteksi keberadaan atau posisi alat tangkap. Selain itu juga umumnya dilengkapi dengan line hauler, line thrower, belt conveyor, penggulung tali cabang dan peralatan oceanografi.

Daerah Penangkapan
Daerah penyebaran tuna di perairan Indonesia adalah di Samudera Hindia sebelah Barat Pulau Sumatera, Selatan Pulau Jawa, Laut Timor, Laut Sulawesi, Laut Flores, dan perairan sebelah Utara Papua (Naingolan, 2007).

Kendala Operasional Rawai Tuna
Usaha perikanan secara umum pada tingkat operasional tentu saja akan mengalami berbagai kendala, begitu juga dengan usaha perikanan rawai tuna. Beberapa kendala yang diamati oleh penulis adalah penentuan lokasi daerah penangkapan yang tepat, penggunaan peralatan tangkap dan peralatan pendukung lainnya, dan penangananan ikan hasil tangkapan.
a. Penentuan daerah penangkapan ikan yang masih menggunakan metode-metode lama. Perkembangan teknologi menuntut pengusaha atau pun nelayan untuk bersaing dalam upaya penangkapa ikan. Penggunaan teknologi yang terus berkembang mengakibatkan operasi kapal rawai yang belum menggunakan teknologi terbaru susah bersaing dengan kapal rawai yang menggunakan teknologi terbaru. Penggunaan teknologi terbaru akan lebih cepat menentukan daerah penangkapan ikan dan berakibat pada penekanan biaya operasional.
b. Posisi penurunan atau pengangkatan alat tangkap rawai yang umumnya panjang (berkisar antara 800-2000 mata pancing panjanynya mencapai ratusan kilometer) menuntut kemampuan dan keterampilan ABK dalam penggunaan peralatan tangkap dan peralatan pendukung lainnya. Kesalahan dalam penurunan dan pengangkatan rawai berakibat pada kecelakaan seperti putusnya tali, tersangkutnya kail, dan lain-lain.
c. Penanganan ikan hasil tangkapan pada kapal rawai tuna ini umumnya sudah memenuhi standar kualitas penanganan mutu yang diinginkan oleh konsumen. Namun demikian, penanganan ikan pun membutuhkan keterampilan pemilahan ikan dari kail dan penggunaan teknologi yang digunakan untuk menyimpan ikan.
Solusi Operasional Rawai Tuna yang Efektif dan Efisien
Solusi usaha perikanan rawai tuna yang efektif dan efisien bukanlah jawaban yang mudah. Namun demikian, penulis mencoba membahas berdasarkan faktor-faktor kendala sebagaimana dijelaskan di atas.

Teknologi yang digunakan dalam pemanfaatan sumberdaya tuna disesuaikan dengan sifat dan tingkah laku ikan sasaran. Tuna (Thunnus spp.) dan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan jenis ikan perenang cepat yang bergerombol. Oleh karena itu, alat tangkap ikan menggunakan rawai tuna harus disesuaikan dengan sifat dan tingkah laku ikan yang menjadi tujuan penangkapan.

Umumnya tuna dan cakalang dapat tertangkap pada keldalaman 0-400 meter. Salinitas perairan yang disukai berkisar 32-35 ppt atau di perairan oseanik dan suhu perairan berkisar17-31o C.

Penentuan daerah penangkapan dengan tepat dapat dilakukan dengan dukungan berbagai informasi dan bantuan teknologi yang terus berkembang selain dengan secara visual langsung di perairan. Penggunaan teknologi saat ini adalah penginderaan jauh kelautan dan hidroakustik yang menentukan daerah penangkapan dengan menganalisis secara fisika kimiawi perairan. Riani (1998) menngungkapkan bahwa penggunaan teknologi sangat membantu dalam pencarian sumberdaya ikan yang baru, sehingga akan mempercepat pengambila keputusan atau kebijakan, terutama untuk menetapkan daerah penangkapan ikan agar potensi ikan dapat dipertahankan.

Keterampilan ABK dalam penggunaan peralatan tangkap dan peralatan pendukung lainnya merupakan tuntutan dalam pengoperasian rawai tuna di laut lepas. Kemampuan tersebut diperlukan agar proses operasi mulai dari pencarian daerah penangkapan ikan dapat segera diketahui menggunakan teknologi akustik dan inderaja terbaru, penurunan dan pengangkatan rawai berhasil dengan baik, penanganan ikan tangkapan juga memenuhi standar baku yang ditentukan oleh konsumen.

Tuesday, June 19, 2007

Efektifitas Penggunaan Trammel Net (Jaring Angkat) di Perairan Pantura Jawa


Trammel Net merupakan salah satu jenis alat penangkap ikan yang banyak digunakan oleh nelayan. Hasil tangkapannya sebagian besar berupa udang, walaupun hasilnya masih jauh dibawah pukat harimau (trawl). Secara umum, Trammel net banyak dikenal nelayan sebagai "Jaring kantong", " Jaring Gondrong" atau "Jaring Udang". Sejak pukat harimau dilarang penggunaannya, Trammel net ini semakin banyak digunakan oleh nelayan.

Konstruksi dan desain Trammel net sangat sederhana sehingga mudah dibuat sendiri oleh nelayan. Alat tersebut merupakan jaring berbentuk empat persegi panjang dan terdiri dari tiga lapis jaring, yaitu : dua lembar "jaring luar" dan satu lembar "jaring dalam". Agar alat tersebut terbuka tegak lurus di perairan pada saat dioperasikan, maka Trammel net dilengkapi pula dengan pelampung, pemberat dan tali ris. Dengan demikian alat ini digolongkan juga sebagai jaring insang (gill net). Bedanya kalau Trammel net terdiri dari 3 lapis jaring, sedangkan gill net hanya 1 lapis jaring. Dengan konstruksi tersebut, Trammel net sering juga disebut sebagai "jaring insang berlapis tiga' (triple net ).

Biasanya tertangkapnya ikan atau udang pada Trammel net karena tersangkut jaring dan bukanya terjerat pada insangnya. Sehingga pada saat melepaskan hasil tangkapan (ikan atau udang) agak sulit dan bila bahan jaring tidak kuat dapat mengakibatkan jaring tersebut sobek. Oleh karena itu agar Trammel net mempunyai daya tahan lebih tinggi dan lebih efisien, maka konstruksi jaring dan ukuran benang harus kuat. Sebagai bahan untuk pembuatan tubuh jaring (daging jaring) digunakan bahan sintetis Polyamide (PA). Sedangkan untuk bagian pinggiran jaring (selvage) digunakan bahan dari Polyethylene (PE). Penggunaan bahan tersebut agar Trammel net digunakan agar tidak mudah rusak dan lebih tahan lama (BIPU, 2000).

Penggunaan Trammel net banyak digunakan dalam operasi penangkapan udang di perairan pantai utara Jawa. Penggunaan pukat harimau yang merajalela di perairan tersebut mulai beralih pada Tahun 1980-an karena diberlakukannya Keputusan Presiden Nomor 39 mengenai pelarangan alat tangkap pukat harimau. Efektifitas dalam menangkap ikan dan udang masih rendah dibandingkan pukat harimau, namun demikian penggunaan alat tangkap ini banyak digunakan selain alat tangkap sejenis dan alat tangkap lain seperti pukat cincin, jaring insang rajungan (bottom gill net).

Konstruksi Alat
a. Tubuh Jaring.
Tubuh jaring (webbing) atau daging jaring merupakan bagian jaring yang sangat penting, karena pada bagian inilah udang atau ikan tertangkap secara terpuntal (tersangkut ) jaring. Tubuh jaring terdiri dari 3 lapis, yaitu 1 lapisan jaring dalam dan 2 lapisan jaring luar yang mengapit lapisan jaring dalam. Ukuran mata jaring lapisan dalam lebih kecil dari pada ukuran mata jaring lapisan luar.
o Lapisan jaring dalam terbuat dari bahan Polyamide (PA) berukuran 210 dp-210 d4. Ukuran mata jaring nya berkisar antara 1,5 - 1,75 inchi ( 38,1 mm -44,4 mm ). Setiap lembar jaring mempunyai ukuran panjang 65,25 m ( 1.450 mata ) dan tingginya 51 mata.
o Lapisan jaring luar juga terbuat dari Polyamide (PA) hanya saja ukuran benangnya lebih besar yaitu 210 d6. Setiap lembar jaring panjangnya terdiri dari 19 mata dan tingginya 7 mata dengan ukuran mata jaring 10,4 inchi ( 265 min ).

b. Selvage ( Srampat )
Untuk memperkuat kedudukan jaring pada penggantungnya, maka pada bagian pinggir jaring sebelah atas dan bawah dilengkapi dengan selvage (srampat). Selvage tersebut berupa mata jaring yang dijurai dengan benang rangkap sehingga lebih kuat. Selvage tersebut mempunyai mata jaring berukuran 45 mm, dan terdiri dari 1 - 2 mata pada pinggiran jaring bagian atas dan 5 - 6 mata pada pinggiran jaring bagian bawah. Sebagai bahan selvage sebaiknya Kuralon atau Polyethylene (PE) dengan ukuran 210 d4 - 210 d6.

c. Tali Ris
Trammel net dilengkapi dengan dua buah tali ris yaitu tali ris atas dan tali ris bawah. Fungsi tali ris adalah untuk menggantungkan tubuh jaring dan sebagai penghubung lembar jaring satu dengan lembar jaring lainnya secara horizontal (memanjang). Sebagai bahan untuk pembuatan tali ris adalah Polyethylene (PE) dengan garis tengah tali 2 - 4 mm. Panjang tali ris atas berkisar antara 25,5 – 30 m, sedangkan tali ris bawah antara 30 - 32 m.

d. Pelampung
Pelampung merupakan bagian dari Trammel net yang berfungsi sebagai pengapung jaring pada saat dioperasikan. Jenis pelampung yang digunakan adalah plastik No. 18 dengan jarak pemasangan antara 40 - 50 cm. Tali pelampung terbuat dari bahan Polyethylene dengan garis tengah 3 - 4 mm

e. Pemberat
Pada Trammel net, pemberat berfungsi sebagai pemberat jaring pada saat dioperasikan. Dengan adanya pelampung dan pemberat tersebut, maka jaring dapat terbuka secara tegak lurus di perairan sehingga dapat menghadangkan atau udang yang menjadi tujuan penangkapan. Pemberat tersebut dibuat dari bahan timah (timbel) yang berbentuk lonjong, dengan berat antara 10 - 13 gram/buah. Pemasangan pemberat dilakukan dengan jarak antara 19 - 25 cm, pada sebuah tali yang terbuat dari Polyethylene dengan garis tengah 2 mm. Disamping itu biasanya pada jarak 12 m dari ujung jaring pada tali yang diikatkan ke kapal masih dipasang pemberat tambahan dari batu seberat kira-kira 20 kg.

f. Tali Penghubung ke Kapal.
Trammel net juga dilengkapi dengan tali yang terbuat dari Polyethylene bergaris tengah 7,5 - 10 mm untuk menghubungkan jaring dengan kapal dan juga sebagai penghubung antara jaring dengan pelampung utama (berbendera) sebagai tanda. Selain itu juga dilengkapi sebuah swivel dengan garis tengah 6 - 7,5 cm yang dipasang pada sambungan tali ke kapal dan kedua tali ris atas dan bawah.

Operasi Penangkapan
a. Cara Lurus.
Cara ini adalah yang biasa dilakukan oleh para nelayan, Jumlah lembaran jaring berkisar antara 10 - 25 tinting. Perahu yang digunakan adalah perahu tanpa motor atau motor tempel, dengan tenaga kerja antara 3 - 4 orang. Pada cara ini Trammel net dioperasikan di dasar laut secara lurus dan berdiri tegak. Setelah ditunggu selama 1/2 - 1 jam, kemudian dilakukan penarikan dan penglepasan ikan atau udang yang tertangkap.

b. Cara Setengah Lingkaran.
Pengoperasiannya dilakukan dengan menggunakan perahu motor dalam (inboard motor) atau perahu motor luat (outboard motor). Satu unit Trammel net dapat mengoperasikan jaring 60 – 80 tinting (lembar jaring) dengan tenaga kerja sebanyak 8 orang. Pada cara ini Trammel net dioperasikan di dasar perairan dengan melingkarkan jaring hingga membentuk setengah lingkaran. Kemudian ditarik ke kapal dan ikan & udang yang tertangkap dilepaskan.

c. Cara Lingkaran
Pengoperasiannya dilakukan dengan menggunakan perahu motor dalam seperti pada cara setengah lingkaran. Caranya adalah dengan melingkarkan jaring di dasar perairan hingga membentuk lingkaran. Setelah itu jaring ditarik ke kapal dan udang & ikan yang tertangkap diambil.

Hasil Tangkapan
Jenis hasil tangkapan utama alat tangkap Trammel net adalah udang. Beberapa jenis ikan lain yang tertangkap dengan alat tangkap ini antara lain jenis ikan dasar seperti ikan pari, gulamah, kerot-kerot dan lain-lain (BPPI, 2002).

Daerah Penangkapan (Fishing Ground) di Perairan Pantura Jawa
Daerah penangkapan ikan pengoperasian alat tangkap Trammel net di perairan pantai utara Jawa umumnya digunakan di perairan tertentu yang memiliki kecerahan sedang, salinitas rendah dan dasar perairan pasir berlumpur (Iskandar, 1996). Penggunaan alat tangkap ini umunya ditujukan untuk menangkap udang yang, sehingga pemilihan daerah penangkapan oleh nelayan berdampak pada jumlah hasil tangkapan. Umumnya, nelayan Pantura Jawa yang masih tradisional menggunakan perkiraan (feeling), informasi nelayan lain dan kebiasaan dalam menentukan lokasi operasi penangkapan udang. Oleh karena itu, hal ini masih memiliki banyak spekulasi dengan tingkat efisiensi hasil tangkapan dan tingkat efektifitas penggunaan alat rendah.

Strategi Penangkapan dan Penanganan yang Efektif
Dalam melakukan operasi penangkapan ikan menggunakan Trammel net, beberapa hal yang menjadi masalah adalah jumlah hasil tangkapan utama yang sedikit, penentuan daerah penangkapan yang tidak sesuai dan salah sasaran, mudahnya alat tangkap mengalami kerusakan, dan hasil tangkapan yang memiliki nilai jual rendah. Oleh karena itu, perlu dilakukan beberapa lahkah strategi dalam menggunakan alat tangkap Trammel net dan menangani hasil tangkapan sehingga memiliki efektifitas yang tinggi.

Beberapa langkah strategi penggunaan dan penanganan yang dilakukan antara lain :
a. Pemilihan bahan alat tangkap
Bahan untuk pembuatan jaring umumnya digunakan bahan sintetis Polyamide (PA) dan Polyethylene (PE). Penggunaan bahan yang tepat adalah bahan yang tidak mudah putus dan resisten terhadap korosi dan gesekan akibat penarikan jaring. Bagi nelayan tradisional, jaring yang digunakan disarankan terbuat dari bahan yang bagus dan murah.
b. Persiapan operasi penangkapan ikan
Persiapan operasi penangkapan ikan meliputi persiapan alat tangkap (jaring dan kelengkapannya), peralatan lain seperti lampu dan bakul (box) pengumpul ikan, serta kapal atau perahu yang siap untuk digunakan. Alat tangkap ditumpuk secara rapi agar mudah digunakan pada saat diturunkan dan dinaikkan kembali. Lampu untuk menerangi kapal pada saat operasi pada malam hari. Box yang sudah diisi dengan es agar udang atau ikan masih dalam kondisi segar pada saat dijual.
c. Penentuan daerah dan waktu penangkapan ikan
Untuk mengetahui secara pasti daerah penangkapan, nelayan tidak hanya menggunakan feeling, kebiasaan, dan informasi nelayan lain saja, tapi perlu didukung dengan informasi dan peralatan lain yang secara pasti menunjukkan keberadaan gerombolan ikan yang dituju. Informasi dapat diperoleh dari liputan sebaran ikan menggunakan citra satelit yang saat ini diperoleh di Dinas Perikanan dan Kelautan setempat yang berasal dari Badan Riset Departemen Kelautan dan Perikanan. Peralatan yang secara langsung dapat menangkap keberadaan ikan seperti fish finder akan memberikan manfaat agar operasi Trammel net ini efektif.
Operasi penangkapan juga memerlukan penentuan waktu yang tepat agar hasil tangkapan maksimal. Operasi penangkapan dilakukan baik pada siang atau pun malam hari tergantung jenis ikan yang akan ditangkap. Jenis udang dan rajungan dilakukan pada malam hari, sedangkan jenis ikan lain ada yang dilakukan pada siang hari.
d. Penggunaan operasi alat tangkap dan perawatannya
Operasi alat tangkap yang sesuai mulai dari penyimpanan alat tangkap, menurunkannya, menarik kembali dan menyimpannya perlu dilakukan secara baik dan benar agar alat tangkap tidak mudah rusak serta dapat digunakan dalam waktu lama. Perawatan pasca pemakaian perlu dilakukan, pembusukan ikan bekas tangkapan pada jaring agar segera dibersihkan, bagian yang putus dan robek akibat gesekan agar segera disambung dan diperbaiki, serta selalu membersihkan jaring setelah melakukan operasi penangkapan.
e. Penanganan ikan hasil tangkapan
Ikan yang terjerat pada jaring agar dilepaskan secara hati-hati agar tubuh ikan tidak rusak dan jaring tidak putus. Ikan yang tertangkap segera dikumpulkan dalam palkah atau box yang telah diisi dengan es atau bersuhu rendah. Ikan disortir berdasarkan jenis dan ukuran masing-masing. Ikan yang dikumpulkan harus terhindar dari sinar matahari secara langsung dan disimpan dalam suhu rendah. Penyimpanan ikan dalam suhu rendah diharapkan dapat menjaga mutu ikan yang akan dijual.